Man Jadda Wajada

Dajjal

Dajjal adalah sebuah kata Arab yang mempunyai beragam makna, di antaranya “pembohong dan penyamar, seseorang yang berbohong, memenuhi dunia dengan pengikut-pengikutnya, dan menyelubungi kebenaran dengan keingkaran.”[1] Dalam banyak hadits Nabi Muhammad saw. yang membahas tentang akhir zaman, kata tersebut berulang-ulang disebutkan sebagai salah satu dari tanda-tanda terpenting hari kiamat. Keadaan dunia saat ini menunjukkan banyak kesamaan dengan zaman yang digambarkan oleh Nabi saw.. Di dalam hadits-hadits tersebut, zaman tersebut datang sebagai zaman ketika fitnah (kekacauan dan kejahatan), kekisruhan, dan kekerasan tersebar jauh dan luas, ketika tidak ada kedamaian di dunia, ketika manusia bertempur dengan kejahatan seperti kelaparan, kemiskinan, dan kekurangan harta, dan ketika penindasan berjaya. (Lebih lanjut, silakan lihat The Signs of The Last Day (Tanda-Tanda Hari Akhir), Harun Yahya, 2001). Dajjal adalah jalan pemikiran yang menyebabkan kekacauan dan ketidakstabilan tersebut, yang mendorong manusia kepada kebejatan akhlaq dan kejahatan, menyesatkan seluruh masyarakat di dalam keingkaran dan kedurhakaan, dan merupakan akar utama dari terorisme dan kekerasan. Dajjal menyebarkan kebejatan akhlaq dengan menampilkan kebaikan sebagai kejahatan dan kejahatan sebagai kabaikan. Salah satu hadits tentang hal ini mengatakan,

Ketika Dajjal muncul, dia akan membawa api dan air bersamanya. Apa yang dianggap manusia sebagai air yang dingin, sesungguhnya adalah api yang membakar (segala sesuatu). Jadi, barangsiapa di antara kamu menemuinya, dia harus memilih yang tampak olehnya sebagai api, karena sesungguhnya, itu adalah air segar yang dingin.[2]

Dalam hadits-haditsnya, Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa Dajjal tidak disangsikan lagi akan muncul sebelum hari kiamat. Beliau pun menggambarkan keadaan ketika dia akan muncul. Masa ketika Dajjal muncul adalah masa ketika masyarakat tak mampu hidup menurut akhlaq yang dituntunkan agama, ketika keberadaan Allah swt. diingkari dengan terang-terangan, ketika kebejatan akhlaq, kekacauan, perang dan pertentangan terjadi di mana-mana, dan ketika terorisme, pembunuhan, dan kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Walaupun sepanjang sejarah telah sering terjadi kekisruhan dan kekacauan, tingkat kekacauan dan keruwetan yang akan diciptakan oleh Dajjal akan terjadi dalam tingkat yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Nabi saw. menekankan kenyataan ini dalam sebuah hadits,

“Tidak akan ada ciptaan (yang menciptakan masalah) melebihi Dajjal, dari penciptaan Adam hingga saat-saat terakhir.”[3]

Darwinisme Merupakan

Agama Dajjal

Ciri-ciri yang digambarkan oleh banyak hadits yang membahas tentang Dajjal menjadi semakin jelas jika Dajjal dianggap sebagai sebuah paham (ideologi). Semua gagasan dan sistem pemikiran yang mendorong manusia untuk mengingkari keberadaan Allah, yang memalingkan mereka dari akhlaq agama, dan mendorong terjadinya perselisihan dan kekacauan di antara mereka, sesungguhnya adalah perwujudan Dajjal.

Saat ini, materialisme (paham kebendaan) dan berbagai paham serta gerakan-gerakan yang dilahirkannya, adalah hal-hal utama yang menyebabkan penyimpangan di dunia. Karena itu, semua gerakan semacam ini mendapatkan apa yang mereka katakan sebagai pembenaran ilmiah dari sumber yang sama dan berbagai dasar pemikiran yang sama: Darwinisme. Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi azas pembenaran untuk paham-paham dan gerakan-gerakan materialis dan anti-agama, dan bahkan telah disetarakan menjadi setingkat agama oleh para pendukung paham tersebut. Cendekiawan besar Islam Bediuzzaman Said Nursi menekankan bahwa Darwinisme akan menjadi agama Dajjal pada akhir zaman,

“Sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis akan berangsur-angsur menjadi kuat dan menyebar pada akhir zaman melalui filsafat Materialis, mencapai suatu tingkat sedemikian hingga mengingkari Allah.”[4]

Seperti yang telah dijelaskan oleh Bediuzzaman dengan kalimat “sebuah aliran tirani yang dilahirkan dari filsafat Naturalis dan Materialis”, Darwinisme adalah suatu ajaran yang berpendapat adanya kekuatan berdiri sendiri di alam, yang menyatakan bahwa kehidupan tidaklah diciptakan, tetapi muncul karena kebetulan, dan mencoba menjauhkan umat manusia dari memercayai Tuhan. Dalam buku Taysirul Wusul ila Jami’ul Usul, yang berisi kumpulan hadits Nabi Muhammad saw. berikut tafsirnya, masalah ini disinggung sebagai berikut.

“Ciri paling jelas dan paling penting dari perselisihan di akhir zaman yang dibangkitkan oleh Dajjal adalah bahwa semuanya dipertentangkan dengan agama. Berbagai pandangan ahli kemanusiaan (humanis) dan nilai-nilai yang muncul pada masa itu akan berusaha menggantikan agama. Agama baru ini menjadikan pengingkaran sebagai dasarnya untuk mengesampingkan segala bentuk kekuasaan Tuhan atas manusia…. Ini merupakan sebuah agama yang anti-agama yang dasar ketuhanannya adalah benda dan manusia.[5]

Pandangan ahli kemanusiaan (humanis) yang disebutkan dalam kutipan di atas, pada saat ini benar-benar telah mengambil alih peran agama. Humanisme modern adalah sebuah agama ateis yang mengingkari keberadaan Tuhan dan menganggap manusia sebagai sesuatu yang suci yang harus dimuliakan. Jika kita mempelajari buku-buku pemikir humanis, jelaslah bahwa pandangan mereka atas dunia didasari sepenuhnya pada teori evolusi (Untuk keterangan lebih rinci, lihat Global Freemasonry, karya Harun Yahya, Istambul, 2002)

Kebetulan belaka adalah titik pusat dalil yang digunakan dalam Darwinisme untuk mempertahankan pendapat bahwa kehidupan muncul dari benda mati dan berkembang melalui perkembangan evolusi. Menurut paham yang menyesatkan ini, semua kehidupan dimulai dari satu sel tunggal yang muncul secara kebetulan, dengan kata lain dari moyang yang sama, kemudian berkembang dari satu jenis ke jenis lainnya dari waktu ke waktu melalui perubahan-perubahan kecil, lagi-lagi karena kebetulan belaka. Teori ini kekurangan dasar ilmiah maupun dasar yang dapat diterima akal dan tidak lain hanyalah khayalan, tapi justru diterima luas pada masa Darwin karena tingkat ilmu pengetahuan dan kondisi sosial yang masih terkebelakang waktu itu. Namun begitu, seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemudian disadari bahwa teori ini sebenarnya hanyalah omong kosong. Walaupun demikian, masih saja ada orang-orang pada saat ini yang tidak mampu meninggalkan teori yang tidak masuk akal ini, seperti yang akan kita lihat nanti.

Sejak awal Darwinisme dikemukakan, paham ini telah menjadi pembenaran teori terpenting untuk paham dan gerakan materialis serta anti-agama dan telah disetarakan tingkatnya hingga mendekati bentuk keimanan oleh para pendukungnya.

Ketika orang-orang yang memercayai takhayul ini ditanya bagaimana kehidupan pertama muncul, mereka menjawab, “Makhluk hidup muncul secara kebetulan.” Padahal, sebenarnya kebetulan adalah kekuatan tanpa kendali, tanpa sebab, dan tanpa tujuan. Justru sebaliknya, Allah menciptakan segalanya sesuai dengan rencana, dengan tata cara yang teratur, cerdas, dan teliti. Jika kita mempelajari sebuah hasil penciptaan, kita akan sadar bahwa hal itu merupakan bagian dari sebuah rancangan dan dibuat menjadi ada oleh Zat yang cerdas dan sadar. Sebenarnya, ini bukanlah kesimpulan yang perlu diambil dengan berpikir panjang. Akan langsung terlihat. Sebagai contoh, jika seseorang memasuki sebuah ruangan, dia akan tahu ketika melihat kursi, meja, jam, dan televisi, bahwa benda-benda tersebut dibuat oleh seseorang dan diletakkan di dalam ruangan itu. Dia juga tahu bahwa seseorang meletakkan semua benda tersebut menurut aturan tertentu. Dia pasti tidak pernah berpikir bahwa meja, kursi, jam, dan televisi tersebut muncul dengan sendirinya, atau telah masuk ke dalam ruangan itu dan meletakkan dirinya dengan usaha sendiri. Jika ada yang memercayai hal seperti itu mungkin terjadi, kewarasannya mungkin harus dipertanyakan.

Begitu pula halnya, seseorang yang memercayai pernyataan tak masuk akal seperti Darwinisme, sebenarnya sedang mengatakan bahwa apel, jeruk, strawbery, anggur, melon, semangka, ceri, prem, persik, aprikot, bungur, bakung, violet, magnolia, kembang kertas, kucing, antelop, harimau, kelinci, tupai, zebra, jerapah, dan seluruh makhluk di dunia, bahkan insinyur, dokter, dosen, peneliti, seniman, dan negarawan, pendeknya segala hal di dunia, muncul atas kemauannya sendiri secara kebetulan. Dengan kata lain, orang seperti itu percaya bahwa segala yang ia lihat adalah karena suatu kebetulan. Ini berarti bahwa “kebetulan” adalah tuhan orang tersebut. Padahal, jika diperiksa lebih teliti, yang dianggapnya tuhan itu adalah sesuatu yang tidak punya dalil sama sekali, sehingga bisa disebut sebagai tuhan khayalan yang paling bodoh. “Tuhan” tersebut bahkan tidak menyadari keberadaannya sendiri, juga apa yang telah diciptakannya.

Dalam sebuah hadits yang membahas Dajjal, Nabi Muhammad saw. bersabda, “Sang Dajjal itu buta.”[6] Cendekiawan Islam menafsirkan hadits tersebut sebagai “mata hati Dajjal itu buta”[7] Penafsiran ini membantu kita memahami lebih baik “kebetulan” yang kita bahas tadi. Dengan cara yang sama, mata hati orang yang mempertuhankan suatu kebetulan juga buta, sebagaimana mata akalnya. Orang seperti itu akan segera menolak ketika dikatakan bahwa “Allah telah menciptakan alam semesta dengan kecerdasan, aturan, dan rancangan yang agung”. Akan tetapi, ketika dikatakan bahwa “segalanya terjadi karena kebetulan”, mereka justru menganggapnya sangat masuk akal. Bukannya percaya pada Pencipta yang cerdas dan sadar, mereka malah lebih memilih pemikiran yang benar-benar tidak masuk akal bahwa suatu kebetulan, tanpa kecerdasan dan kemampuan daya cipta, telah menciptakan segalanya dari ketidakteraturan dan kekacauan. Itulah sebabnya, Darwinisme merupakan agama dan takhayul paling tidak masuk akal dalam sejarah dunia. Kenyataan lain yang mengejutkan adalah banyaknya orang berpendidikan tinggi yang menjadikannya sebagai agama, walaupun telah jelas kepalsuannya. Profesor, politisi, guru, pengacara, dan bahkan dokter membiarkan diri mereka memercayai omong kosong ini. Ini menunjukkan seberapa jauh pemikiran Dajjal merasuki manusia seperti mantra sihir.

Jadi, apakah sebenarnya yang menyebabkan mereka memercayai pernyataan yang begitu tidak masuk akal dan tidak logis, dan bahkan dengan gigih mempertahankannya?

Apa yang sedang kita bicarakan adalah godaan dan hasutan besar-besaran yang ditujukan untuk menyebarkan tata nilai ajaran Dajjal pada akhir zaman. Untuk menyampaikannya setepat mungkin, masyarakat dihujani dengan pengajaran paham Dajjal sepanjang hidup mereka, sehingga seiring berjalannya waktu, mereka menjadi terbiasa menerima agama sesat tersebut. Pengajaran ini, yang telah diajarkan sejak masa kecil, terdiri atas berbagai tahap, di mana dalam setiap tahapnya, penerimanya telah mengambil satu langkah lebih jauh ke arah dunia gelap Dajjal. Cara paling tepat untuk melindungi diri kita dari pengajaran sesat yang bertubi-tubi tersebut adalah dengan hanya mendengarkan suara nurani diri sendiri. Karena, dengan rahmat Allah, nurani kita adalah sebuah penuntun yang memastikan kecenderungan kita ke jalan yang benar. Sebaliknya, Darwinisme, yang telah mengalami kejatuhan menyeluruh secara ilmiah, saat ini hanya dipertahankan dari sudut pandang ideologi saja: tidak masuk akalnya paham ini tidak hanya bisa ditunjukkan dengan bukti ilmiah, tetapi juga dengan mendengar suara nurani diri masing-masing.

Mungkin diri kita tidak merasakan jika kita sedang dihujani dengan  pengajaran faham Dajjal. Pengajaran ini, yang telah diajarkan sejak masa kecil, terdiri atas berbagai tahap, di mana dalam setiap tahapnya, penerimanya telah mengambil satu langkah lebih jauh ke arah dunia gelap Dajjal. Cara paling tepat untuk melindungi diri kita dari pengajaran sesat yang bertubi-tubi tersebut adalah dengan hanya mendengarkan suara nurani diri sendiri. Karena, dengan rahmat Allah, nurani kita adalah sebuah penuntun yang memastikan kecenderungan kita ke jalan yang benar.

Selain dengan nurani untuk melindungi diri kita dalam menghadapi pengajaran paham bertubi-tubi, dan untuk memahami cara kerjanya, kita perlu mempelajari berbagai tahap pengajaran paham tersebut.

 

Tahap 1:  Kita diajari kebohongan bahwa “kehidupan

terjadi karena kebetulan”

Seorang anak menerima dan menilai apa yang terjadi di sekelilingnya dengan cara yang berbeda dari orang dewasa. Anak-anak selalu bertanya-tanya dan meminta alasan mengapa berbagai hal bisa terjadi di sekeliling mereka, seperti dari mana mereka berasal, mengapa mereka dapat berbicara, bagaimana benda-benda di alam terwujud, siapa yang menciptakan tumbuhan, bagaimana matahari terbit dan terbenam, bagaimana bulan menggantung di langit, dan banyak lagi pertanyaan semacam itu. Sebenarnya hanya ada satu jawaban yang benar yang dapat diberikan kepada seorang anak untuk semua pertanyaan-pertanyaan ini. Akan tetapi, manusia cenderung memberikan dua jenis jawaban. Pertama, dan yang benar, yaitu bahwa Allahlah yang telah menciptakan segalanya, termasuk dirinya, dan manusia bertanggung jawab kepada-Nya, yang telah menciptakan mereka dari ketiadaan dan memungkinkan mereka tumbuh dewasa, makan, minum, dan bernapas, dan Dialah yang melindungi mereka. Allah menguasai alam semesta di bawah kendali-Nya, Dia Mahaada, dan melihat serta mendengar segalanya.

Akan tetapi, sebagian orang tidak memberikan untuk anak-anak mereka jawaban yang benar atas pertanyaan-pertanyaan tadi. Mereka mungkin berkata bahwa Allah telah menciptakan segalanya, tapi mereka tidak meneruskannya dengan berkata bahwa Dialah Penguasa dan Pengatur segalanya, dan semua terjadi atas kehendak-Nya. Sementara itu, lainnya menyesatkan anak-anak mereka dengan cara yang lebih buruk lagi. Mereka mengemukakan pernyataan yang keliru bahwa alam semesta merupakan hasil dari proses kebetulan belaka. Ini karena mereka juga telah diajarkan oleh orang tua atau guru-guru mereka dengan jawaban seperti itu. Mereka terus-menerus dihadapkan pada pengajaran yang mengingkari keberadaan Allah, di sekolah, surat kabar, dan televisi. Tipu daya ini lama kelamaan menjadi bagian dasar dari pola pikir mereka.

Lebih parah lagi, pengajaran ini telah membentuk bangun pemikiran dalam diri manusia, meski mereka melihat begitu banyaknya keajaiban dalam penciptaan, mereka menjadi terbiasa untuk tidak menghiraukan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri dan mengenalinya dengan nurani mereka. Padahal, sesungguhnya semua keadaan itu sendiri merupakan keajaiban lainnya dari penciptaan. Kenyataan bahwa pengingkaran manusia terhadap begitu banyaknya keajaiban yang dengan jelas bisa dilihat dengan mata mereka sendiri, adalah sebuah mukjizat yang telah diungkapkan kepada kita di dalam Al-Qur`an. Dalam ayat berikut, Allah berfirman bagaimana sebagian manusia terus mengingkari semua keajaiban yang telah diperlihatkan kepada mereka,

 

Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’aam [6]: 111)

 

Jalan pemikiran seperti ini, yang menjadi landasan manusia dalam mendidik anak-anak mereka, memiliki kesesuaian dengan agama Dajjal, karena agama itulah yang mereka imani. Itulah sebabnya, begitu banyak manusia dibesarkan, bahkan dari masa kanak-kanaknya, dalam kepercayaan bahwa segalanya merupakan hasil suatu kebetulan belaka, tanpa pernah merenungkan keberadaan Allah swt. dan keindahan ciptaan-Nya. Beberapa keluarga sama sekali tidak memberikan anak-anak mereka pengetahuan tentang hal ini, sehingga membuat mereka menjadi sangat rentan terhadap pengajaran-pengajaran yang bersifat ateis, yang pasti akan mereka temui di televisi dan film, surat kabar, dan buku-buku.

 

Tahap 2:  Kita diajari dengan kebohongan bahwa hidup

merupakan perjuangan dengan landasan kekerasan

Seseorang yang mengira bahwa kehidupan merupakan akibat kebetulan belaka, meskipun ia tidak yakin sepenuhnya pada awalnya, akan memercayai bahwa benda adalah satu-satunya hal yang mutlak keberadaannya. Di sini, dia telah lulus dari tahap pertama ajaran Dajjal. Akibatnya, dalam kebudayaan yang masyarakatnya dibesarkan sebagian besar dengan ajaran seperti itu, pengaruh penting lain yang mengakar dalam pikiran seorang anak adalah bahwa dia “hanya akan bertahan selama dia kuat dan mementingkan diri sendiri”.

Pemikiran seperti itu pada awalnya ditanamkan oleh keluaga, dan kemudian menjadi lebih kuat dan lebih meluas lagi pada saat si anak mulai bersekolah. Pengajaran yang diterima anak dari keluarga dan lingkungannya diperkuat oleh teori-teori yang tidak ilmiah, yang setidaknya digambarkan sebagai hal yang telah diterima secara ilmiah, beserta pernyataan “nenek moyang manusia adalah binatang, sehingga cara hidup antarbinatang juga berlaku pada manusia”. Dengan cara ini, anak-anak mulai belajar bahwa ada suatu pertentangan berkelanjutan antarpribadi-pribadi dan di dalam masyarakat, di mana si lemah akan tersingkir, dan perlunya suatu sikap agar bisa selamat dan bertahan. Menurut pendapat ini, pelajaran paling penting dan tidak boleh dilupakan adalah bahwa kekuatan, kekerasan, dan tipu daya bisa digunakan, jika diperlukan, supaya bisa selamat dan bertahan.

Pengajaran tersebut tidak terbatas pada sistem pendidikan. Anak terus menerima pengajaran Darwinisme sosial secara intensif dalam lirik lagu yang mereka dengar, film yang mereka lihat, dalam iklan, video, dan bahkan permainan di komputer yang mereka mainkan. Pendeknya, di segala segi kehidupannya. Sebagai akibat dari pengajaran bertubi-tubi ini, anak mulai membangun hubungannya dengan orang lain atas dasar kebendaan. Ini, pada gilirannya, berarti bahwa kelaliman, egoisme, kepentingan diri, dan ketidakjujuran menguasai setiap saat dalam kehidupannya. Akibat yang tidak terhindarkan dari cara pikir ini adalah, dia terdorong jauh dari nilai akhlaq yang benar menuju sebuah dunia kegelapan.

Sebaliknya, akhlaq Al-Qur`an menawarkan sebuah kehidupan yang sangat berbeda dari contoh tersebut. Dalam Al-Qur`an, manusia dianjurkan kepada kedamaian dan keamanan. Masyarakat tempat akhlaq Al-Qur`an berlaku ditandai oleh cinta, belas kasih, tenggang rasa, kejujuran, pengorbanan diri, dan kemanusiaan. Akhlaq yang tepat yang Allah perintahkan kepada manusia untuk dipatuhi, difirmankan sebagai berikut.

 

Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan. Sesungguhnya, kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih. Sesungguhnya, kami takut akan azab suatu hari yang (di hari itu orang-orang bermuka) masam, penuh kesulitan (yang datang) dari Tuhan kami. Maka Tuhan memelihara mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka kejernihan (wajah) dan kegembiraan hati.” (al-Insaan [76]: 8-11)

 

Tahap 3:  Kita diajarkan bahwa kita tidak bertanggung

jawab kepada orang lain

Seorang anak yang mendapatkan jawaban materialis dan Darwinis untuk tiap pertanyaannya, tak pelak lagi akhirnya akan setuju terhadap pandangan tersebut. Meskipun dia masih tidak mampu menerangkannya secara terbuka, dia akan mulai menganggap dirinya dan orang di sekitarnya hanyalah sejenis binatang yang telah menjalani tingkat evolusi tinggi.

Akan tetapi, masih ada lagi tahap yang tersisa dari pendidikannya, yaitu pengajaran kepalsuan bahwa dia tidak bertanggung jawab kepada siapa pun kecuali dirinya sendiri. Menurut anggapan ini, jika materi selalu ada dan akan tetap ada, jika seluruh kehidupan merupakan hasil dari suatu kebetulan belaka, dan lebih jauh lagi, jika kematian adalah ketiadaan abadi, satu-satunya yang memeiliki arti adalah keuntungan kebendaan. Dalam dunia yang hanya dibangun atas dasar kebendaan, nilai rohani tidak mendapat tempat. Akibatnya, satu-satunya yang ingin dipikirkan manusia hanyalah memuaskan hasrat dan nafsunya, dengan cara apa pun yang diperlukan. Menurut ayat berikut dalam Al-Qur`an, “Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan dengan main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan kembali kepada Kami?” (al-Mu`minuun [23]: 115) Allah dengan jelas mengungkap pandangan hidup yang menyimpang dari orang-orang ingkar ini.

Orang yang benar-benar percaya bahwa mereka dapat menjalani kehidupan dengan kebebasan mutlak dan bahwa pada akhirnya mereka akan musnah selamanya, sebenarnya tengah melakukan kesalahan besar. Kita bertanggung jawab terhadap Penguasa kita, Yang menciptakan kita dari ketiadaan. Dialah Allah yang menciptakan manusia sesuai dengan takdirnya masing-masing, Yang mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan seseorang, Tuhan Yang akan memanggilnya, setelah kematiannya, untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu, dan memberi pahala atau menghukum manusia sesuai perbuatannya. Tidak seperti binatang, Allah telah menciptakan manusia dengan jiwa, pikiran, kehendak, dan nurani. Dengan kata lain, meskipun seseorang menghadapi suatu godaan di suatu ketika, dia telah diciptakan dengan segala hal yang diperlukan untuk mencegahnya melakukan kejahatan.

Seseorang yang tidak menyadari atau tidak peduli terhadap kebenaran ini, jelas akan membahayakan masyarakat tempat dia berada. Misalnya, seseorang yang marah karena sesuatu hal yang telah terjadi, bisa saja bertingkah dengan zalim dan menyakiti orang yang membuatnya marah itu tanpa pikir panjang. Tidak peduli apakah orang itu tidak mampu membela dirinya. Yang terpenting adalah melampiaskan amarahnya. Sebaliknya, seseorang yang mengetahui bahwa ia memiliki jiwa yang dianugerahkan padanya oleh Allah, yang menggunakan akal dan nuraninya, ia akan mampu mengendalikan kemarahannya. Dia akan selalu bisa mengendalikan dirinya dan hati-hati. Orang seperti itu tidak akan berani berbuat hal sekecil apa pun yang dapat mengundang hukuman Allah. Jika ia berbuat dosa, ia memohon ampunan dan memperbaikinya.

Beginilah cara Allah mengingatkan manusia yang mengira mereka bebas dari peringatan bahwa mereka telah diciptakan dan akan dibangkitkan lagi setelah kematiannya,

 

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), Kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya, lalu Allah menjadikan darinya sepasang: laki-laki dan perempuan. Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati? (al-Qiyaamah [75]: 36-40)

 

Ayat lainnya menyatakan bahwa manusia telah diilhamkan untuk melakukan kejahatan dan kesalahan, maupun untuk menjaga dirinya dari segala kecenderungan kepada kejahatan (asy-Syams [91]: 7-10). Dengan demikian, penyebab utama dari kemerosotan akhlaq manusia dan kejahatan yang mereka lakukan adalah karena mereka tidak beriman kepada Allah, tidak berpikir bahwa mereka akan mempertanggungjawabkan perbuatan mereka kepada-Nya, sehingga tidak merasa takut kepada-Nya. Padahal, sesungguhnya ada tujuan di balik penciptaan tersebut. Dalam sebuah ayat, hal ini diungkapkan sebagai tanggung jawab untuk menyembah Allah, “Dan Aku tidak menciptakan… manusia kecuali untuk menyembah-Ku.” (adz-Dzaariyaat [51]: 56) Manusia diuji dalam kehidupan ini. Jika mereka gagal memenuhi tanggung jawabnya, mereka nanti harus mempertanggungjawabkan hal tersebut. Beberapa di antara tanggung jawab ini disebutkan dalam ayat,

 

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah [98]: 5)

 

Agama yang benar adalah agama Allah, namun karena dirasuki oleh ajaran lain yang diterima oleh manusia, banyak manusia yang telah berpaling darinya. Seseorang yang telah menjalani tahap demi tahap pendidikan Darwinis Sosial, ia hanya dihadapkan pada pilihan yang amat sedikit. Pandangannya tentang kehidupan dan kemanusiaan telah terbentuk dalam pola ajaran materialis Darwinis. Akibatnya, dia hanya akan berjuang untuk dirinya dan kepentingannya sendiri, akan terbiasa melihat kekerasan, penindasan, dan tipu daya sebagai satu-satunya cara untuk mencapainya, dan terhempas dari satu dosa ke dosa lainnya, tersesat dalam mimpi buruk ateisme. Parahnya lagi, tidak akan ada yang mencegahnya dari melakukan hal tersebut. Jumlah orang yang selalu “mencari masalah”, bertingkah membabi buta terhadap orang-orang yang tak berdaya, menindas yang lemah dan menginjak-injak hak-hak mereka, menikmati kekerasan, menganggap penderitaan orang lain sebagai cara untuk kebahagiaan dirinya, pendeknya, telah kehilangan sentuhan lembutnya perasaan manusia, semakin meningkat dari hari ke hari.

Penyebab terpenting dari semua ini adalah karena “kebenaran” mengerikan yang diajarkan oleh agama Dajjal ditampilkan seolah-olah itulah sesungguhnya kenyataan hidup.

Aliran-Aliran dalam

Agama Dajjal

Telah terungkap dalam hadits bagaimana Dajjal akan menebar perselisihan ke seluruh dunia. Salah satu tandanya adalah bagaimana manusia dari semua agama, bangsa, dan kepercayaan tunduk pada sistem ini. Karena perselisihan tersebut akan sangat besar dan tersebar luas, banyak orang, sadar atau tidak, akan jatuh ke dalam perangkap tersebut, dengan melakukan gaya hidup yang dianjurkan oleh Dajjal. Dangan kata lain, tak peduli apa pun pandangan hidup mereka, semua orang yang melakukan dan menyukai kekacauan, yang melakukan dan membela penggunaan kekerasan, atau menjalankan tindakan yang membahayakan perdamaian, sesungguhnya merupakan pengikut agama Dajjal.

Agama tersebut dapat dibagi lagi ke dalam beberapa “aliran”. Jika kita meninjau abad yang baru saja kita lalui, kita bisa menyaksikan kerusakan parah akibat dua paham yang muncul dari Darwinisme: komunisme dan fasisme.

Kedua paham ini dapat dianggap sebagai dua aliran utama dari agama Dajjal. Para pendiri dan pemimpin kedua paham ini sama-sama merupakan pengikut setia Darwinisme, yang terletak pada akar filsafat Dajjal, dan kedua gerakan ini sangat dipengaruhi oleh Darwinisme. Kedua aliran ini telah membawa malapetaka tak terperikan pada dunia, mengubah dunia menjadi ajang besar peperangan. Ketika kita meneliti kedua paham ini lebih dekat, sebuah temuan menarik mulai muncul. Tak peduli meski keduanya tampak sangat berseberangan, keduanya sebenarnya mempunyai lebih banyak kesamaan dibanding perbedaan yang tampak, dan menjadi sangat jelas bagaimana keduanya terilhami oleh sumber yang sama: Darwinisme (Lebih lanjut, silakan lihat The Disaster Darwinism Brought to Humanity, Harun Yahya, 2000). Pemikiran utama Darwinisme, akar dari kemiripan tersebut, adalah sebagai berikut.

Darwinisme

* Titik tolak Darwinisme adalah pengingkaran menyeluruh terhadap Sang Pencipta. Tujuan utamanya adalah pembentukan masyarakat yang benar-benar terlepas dari agama. Akibatnya, Darwinisme telah menjadi agama yang bertuhankan kesempatan dan kebetulan.

* Darwinisme berpandangan bahwa ada “perjuangan untuk bertahan hidup” di alam ini, sehingga kekejaman pun berlaku. Menurut pernyataan ini, perjuangan tanpa kenal kasihan yang terjadi di antara makhluk hidup lainnya juga berlaku pada manusia. Dalam lingkungan tempat seseorang melihat orang lainnya sebagai musuhnya, perasaan yang paling sering muncul adalah kemarahan, keserakahan, dan kebencian.

* Tidak ada ruang untuk tenggang rasa, belas kasih, atau musyawarah dalam perjuangan untuk bertahan hidup. Jika hanya yang terkuat yang mampu bertahan, maka tenggang rasa, belas kasih, dan musyawarah merupakan pilihan terakhir yang diandalkan oleh manusia.

* Pada dasarnya, Darwinisme adalah sebuah tipu daya besar. Semua pernyataannya telah disangkal oleh ilmu pengetahuan modern.

Komunisme

* Komunisme menggambarkan agama sebagai candu bagi masyarakat. Perjuangan awalnya di semua masyarakat tempat paham ini diterima adalah menentang semua kepercayaan agama.

* Seperti yang dinyatakan Lenin, dengan kata-kata “perkembangan adalah ‘perjuangan’ antara dua pihak yang bertentangan”,[8]8 komunisme menyatakan bahwa kemajuan hanya bisa terjadi dengan cara pertentangan. Diyakini di sini bahwa tidak mengkin ada kemajuan dan perkembangan tanpa pertumpahan darah.

* Pemberontakan bersenjata dan revolusi merupakan unsur penting dari komunisme. Pada akar dari semuanya itu terletak amarah yang dirasakan terhadap kelompok masyarakat lainnya dan hasrat tanpa ampun untuk membalas dendam.

* Komunisme bertekad melawan setiap penentangan dan perbedaan. Perbedaan hanya berarti satu hal: pertentangan. Hanya boleh ada satu jenis untuk segala hal di dalam pemerintahan komunis, termasuk manusia. Semua yang bermaksud menentang keseragaman dipandang sebagai musuh pemerintah dan tidakan keras akan dilakukan terhadapnya. Dalam keadaan seperti itu, tidak ada tenggang rasa dan tak ada kemungkinan untuk menciptakan musyawarah.

* Dalam pelaksanaannya, penerapan komunisme menjadi petunjuk yang jelas tentang betapa menipunya pemikiran seperti persamaan, keadilan sosial, dan kebebasan yang dikemukakan oleh komunisme dalam rangka memikat pengikutnya. Pemikiran-pemikiran tersebut tak lain dari alat propaganda komunisme, sebuah sistem yang diktator dan mengagungkan diri sendiri.

Fasisme

* Fasisme dan semua cara yang ditempuhnya, bertentangan langsung dengan akhlaq agama. Salah satu sifat yang membedakan fasisme adalah kecenderungannya untuk membunuh orang tak bersalah atas sesuatu yang dinamakannya nilai-nilai “suci” dan menganggap pembantaian tersebut sebagai kebajikan. Itulah sebabnya, perang merupakan bagian yang tak bisa dipisahkan dari fasisme.

* Kemarahan dan kebencian yang ditujukan kepada orang dari ras yang berbeda merupakan salah satu unsur mendasar lainnya dari fasisme. Kecenderungan rasis ini telah mengilhami banyak peperangan, pertentangan, kematian, dan pembersihan etnis.

* Disiplin ketat merupakan bagian mendasar dari pemerintahan fasis. Semua pendapat yang bertentangan dengannya akan dimusnahkan. Pembakaran ribuan buku selama Hitler berkuasa, hanya karena buku-buku tersebut mengandung “pemikiran bukan Jerman”, adalah salah satu contohnya.

* Dalam rangka memperoleh dukungan masyarakat, fasisme menanamkan kepada masyarakat gagasan bahwa ras mereka lebih unggul dari yang lainnya. Tujuan sesungguhnya adalah sebuah sistem yang dibangun dengan konsep rasial. Namun demikian, jelaslah bahwa dalam lingkungan di mana setiap ras mengira dirinya lebih unggul, tidak akan ada akhir dari perang dan pertentangan. Bencana yang telah diakibatkan oleh diktator fasis seperti Hitler dan Mussolini pada rakyat mereka sendiri merupakan bukti mencolok akan kenyataan bahwa pemikiran yang didukung oleh fasisme tak lebih dari kepalsuan belaka.

Sifat-sifat yang telah disebutkan di atas merupakan sedikit contoh untuk memberikan kepada Anda suatu gambaran umum tentang paham-paham ini. Jika kita mengingat bagaimana paham-paham ini diterapkan, akan lebih jelas lagi seberapa jauh sesungguhnya kekasaran dan kebrutalan mereka. Akan tetapi, yang paling penting dicatat adalah bahwa cara-cara Dajjal dan paham-paham yang terkait dengannya, bisa saja dianut oleh seluruh lapisan masyarakat, meskipun segala kerusakan parah terbukti telah diciptakannya. Karena alasan inilah, sangat penting artinya mempelajari cara sistem Dajjal membawa seluruh masyarakat di bawah kendalinya. Mengungkapkan bagaimana hal ini terjadi merupakan “tembakan pembuka” dalam perang pemikiran yang akan kita lancarkan terhadap sistem tersebut. Ini karena manusia tidaklah dengan tiba-tiba menjadi pribadi-pribadi yang mementingkan diri sendiri, membabi-buta, dipenuhi kebencian dan nafsu balas dendam dalam waktu semalam saja. Seperti yang telah kita lihat, mereka hanya bisa dibiasakan menerima sistem Dajjal secara perlahan, melalui tahap demi tahap. Prosesnya dimulai ketika seseorang untuk pertama kali menyadari lingkungannya dalam proses pembelajarannya dan terus berlanjut sepanjang hidupnya. Pengajaran itu dimulai dengan memalingkan manusia dari keimanan terhadap Allah.

Aliran-aliran utama yang telah kita bahas sebenarnya juga terdiri atas berbagai kelompok dan pengikut yang berbeda. Bab-bab berikut dari buku ini akan mempelajari kaitan antara Dajjal dan terorisme dengan kelompok-kelompok turunan ini. Namun demikian, akan sangat berguna jika pertama-tama kita melihat bagaimana pembahasan Dajjal di dalam Al-Qur`an.


[1] Lisanul-‘Arab.

[2] Shahih al-Bukhari.

[3] Shahih Muslim.

[4] Badiuzzaman Said Nursi, Risale-i Nur Collection, Letters, Fifteenth Letter, The Fourth Question, The Second Current.

[5] Taysirul Wusul ila Jami’ul Usul, hlm. 457-458.

[6] Shahih Muslim.

[7] Saban Dogen, Mehdi ve Deccal (Mahdi and Dajjal), edisi ke-2 (Istambul: Genclik Yayincilik, 1998), hlm. 59.

[8] V.I. Lenin, “On the Question of Dialectics”, Collected Works, 4th English Edition (Moskow: Progress Publishers, 1972), vol. 38, hlm. 358.

Sumber dari buku Terorisme: Ritual Setan karya Harun Yahya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s