Man Jadda Wajada

Musuh dalam Selimut

Puisi ini aku buat ketika  seorang sahabat mengkhianatiku. Walau akhirnya dia meminta maaf, rasa sakit dan marah masih menyelimuti ketika mengingat kejahatan yang dia buat. Sebenarnya aku tidak ingin mengungkit – ungkit lagi karena sudah berlalu, tapi karena sepertinya dia tidak keberatan, ya aku post-kan saja, hehe. Yang jahat sekarang kok aku ya, sorry friends.

 Musuh dalam Selimut

 

Sebuah hadiah tulus

Telah terbuka darimu

Dari hati yang telah haus

Kepada hati yang telah menjauh

Seuntai senyuman manis yang kau tujukan dengan penuh harap

Membuat hatiku sakit penuh tangis

Berharap kau cabut luka tak bersayap ini

Tak tersadar jarum kebencian semakin menyiksakan hati

Saat kau hadir kembali dalam catatan diary

Ingatkan aku saat kau datang membawa cahaya

Yang ternyata kilatan cahaya pisau yang siap kau tancap di dadaku

Badai telah menyapu pasir kisah itu

Tapi kau datang lagi membawa obat

Berharap hatiku sembuh

Berharap hatiku tak kan membencimu

Tapi sungguh kusangat membencimu

Biarkanlah sang waktu yang melenyapkan pahit ini

Jika memang bisa musnah disemua penjuru hati

 

 

 
 
 
 
 
 
By
Relia Selifa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s